Senin, 30 Januari 2012

Membedah Tentang Ramalan dan Hukum nya




Ramalan semakin marak. Semakin canggih teknologi dan informasi, tidak dapat mengikis kepercayaan manusia modern terhadap model klenik. Ramalan dianggap dapat mengisi kekosongan jiwa “manusia modern” dari kemiskinan spiritualitas.

Ramalan tidak lagi identik dengan asap kemenyan pedupaan, spekulasi kartu tarot, bola kristal, pendulum, shio, garis tangan, zodiac, atau benda yang dianggap bertuah magis lainnya, tetapi menyusup halus melalui majalah, tabloid, TV dan internet.

Muslim harus mampu bersikap sesuai dengan syariat terhadap ramalan yang telah memasuki berbagai aspek kehidupan.

Jenis Ramalan 

Ramalan ilmiah diperoleh dari data kualitatif, kuantitatif, kegiatan analisa serta penyimpulan berdasarkan kemampuan akal-budi manusia. Ramalan cuaca dibuat berdasarkan informasi satelit untuk mengetahui kondisi cuaca di belahan dunia manapun. Para CEO perusahaan memiliki intuisi (kepekaan terhadap kondisi) bisnis yang mereka hadapi berdasarkan berbagai faktor perkembangan bisnis ke depan. Metode forecasting dapat menilai kelayakan bisnis dalam perekonomian. Ramalan medis dibuat oleh dokter spesialis. Ramalan ilmiah yang lebih tepat disebut prakiraan ini hukumnya mubah dan digunakan untuk mempersiapkan diri menghadapi apa yang diduga akan terjadi.

Ramalan masa depan yang diterima Rasulullah dari Allah SWT merupakan ramalan wahyu yang sudah terbukti saat ini maupun yang bersifat menyingkap tabir kegaiban hari kiamat, kedatangan Imam Mahdi, alam kematian, dll.
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sebelum adanya sepuluh tanda-tanda kiamat, yaitu tenggelam di Timur, tenggelam di Barat, tenggelam di Jazirah Arab, adanya asap, datangnya Dajjal, Dabbah (binatang melata yang besar), Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari sebelah barat, keluar api dari ujung Aden yang menggiring manusia, dan turunnya Nabi Isa.” (Hadits Riwayat Muslim).

Nabi Isa akan diturunkan dari langit untuk menumpas dajjal bersama Imam Mahdi. Nabi Isa menjadi pemimpin yang adil di bumi sampai wafatnya, selama 40 tahun. Setelah wafatnya Isa Al-Masih kemudian kiamat. Ramalan wahyu wajib diyakini muslim dan bersifat menegasikan ramalan Jaber Bolushi 2015 tentang kiamat.

Ramalan mistik menggunakan ilmu magic, ilmu karang, ilmu ketrampilan memainkan media, ramalan dengan melihat ciri fisik, gurat tangan dst. Ramalan mistis digunakan untuk melihat nasib seseorang. Ada ramalan bintang, ramalan jodoh, ramalan keberuntungan, keselamatan, fengshui, dll. Ramalan model ini umumnya merupakan hasil kolaborasi peramal dengan jin, hukumnya haram bagi umat Islam. Ramalan seperti itu membuat manusia terjebak oleh angan-angan.

Siapa Yang Tahu Perkara Ghaib

Perkara ghaib adalah hak prerogratif Allah semata. Pengetahuan yang benar dan lengkap tentang masa depan hanya dimiliki Allah SWT.

“Tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok" (Luqman 31:34).

”(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di belakangnya.” (QS. Al Jin : 26-27).

”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”(Al An’aam:59)

Nabi Muhammad saw tidak mengetahui hal-hal ghaib kecuali yang diberitahukan Allah melalui wahyu. Jin, yang dimintai pertolongan oleh para tukang sihir dan dukun pun tidak mampu mengetahui hal-hal gaib. Jin-jin Nabi Sulaiman AS tidak mengetahui kematian nabi kecuali setelah ia tersungkur.

Sikap Seorang Muslim

Tathayyur (berfirasat buruk, merasa bernasib sial, atau meramal bernasib buruk karena melihat binatang, gelas pecah, peristiwa tertentu) tidak berdasarkan ilmu pengetahuan atau fakta yang benar, tetapi hanya mengikuti naluri manusia yang lemah dan dugaan yang salah. Betapa naifnya manusia yang berakal bisa percaya mendapat sial karena seseorang, tempat, dengkuran suara burung, gerakan mata atau perkataan tertentu.

Rasulullah saw bersabda:"Ada tiga perkara yang tidak akan bisa selamat satupun, yaitu: menuduh, tathayyur dan hasud. Oleh karena itu kalau kamu menuduh jangan kamu nyatakan, dan kalau merasa sial jangan surut (jangan kamu gagalkan pekerjaanmu), dan kalau kamu hasud, jangan lanjutkan."

Oleh karena ketiga perkara ini hanya semata-mata perasaan yang tidak berpengaruh pada suatu sikap dan perbuatan, maka dimaafkan Allah. Ada orang yang memiliki perasaan seperti itu, tetapi akan hilang lenyap dari hati orang yang selalu tawakkal dan tidak membiarkan perasaannya itu tinggal dalam hati.

Persoalan masa depan berkaitan dengan nasib, jodoh, rezeki, mati, dan hari baik itu adalah ketetapan Allah SWT. Manusia diberikan kesempatan untuk merencanakan dan berusaha semaksimal mungkin. Tetapi hasil akhir Allah yang menentukan.

Hukum Percaya pada Ramalan dalam Islam


Umat Islam dilarang terlibat tindakan spekulatif, seperti mengundi, berjudi, dan mempercayai ramalan. Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang mendatangi peramal lalu ia menanyakan sesuatu dan membenarkannya, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari”.

"Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama 40 hari (Hadist Riwayat Muslim)."

Meramal nasib atau mengaku mengetahui ilmu ghaib merupakan tindakan kekufuran. Mendatangi dukun dan bertanya kepadanya hukumnya haram, baik ia membenarkan atau tidak.

"Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal lalu mempercayai apa yang dia ramalkan, maka ia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw”.

“Tidak termasuk golongan kami orang yang melakukan tathayyur atau minta ditathayyur, atau menjadi dukun atau minta dibuatkan perdukunan untuknya, atau menyihir atau minta disihirkan untuknya”.

Mengaku mengetahui ilmu ghaib merupakan perkara yang membatalkan atau menggugurkan tauhid dan keimanan orang karena menandingi kekuasaan Allah SWT. Sabda Rasul saw: ”Ramalan mujur-sial adalah syirik. (Beliau mengulanginya tiga kali) dan tiap orang pasti terlintas dalam hatinya perasaan demikian, tetapi Allah menghilangkan perasaan itu dengan bertawakal”.

Rahasia Peramal

Peramal seolah-olah mengetahui hal ghaib, mampu membaca dan menentukan nasib seseorang, memerintah dan melarang pasiennya untuk berbuat sesuatu, menakut-nakutinya, atau memberi kabar gembira dengan kata-kata manis. Mereka menampakkan kepada khalayak dengan cara-cara melihat letak bintang dll, sebenarnya hanyalah tipuan belaka.

Rasulullah saw bersabda:
“Tatkala Allah memutuskan perkara di langit, para Malaikat mengepakkan sayap, mereka merasa tunduk dengan firman-Nya, seolah-olah kepakan sayap itu bunyi gemerincing rantai di atas batu besar. Ketika telah hilang rasa takut, mereka saling bertanya: “Apakah yang dikatakan Rabbmu? Dia berkata tentang kebenaran dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar. ”Lalu firman Allah itu didengar oleh pencuri berita langit. Para pencuri berita itu saling memanggul (untuk sampai di langit), lalu melemparkan hasil curiannya itu kepada teman di bawahnya”. 
 
Kemudian melemparkan benda itu kepada orang yang di bawahnya sampai akhirnya kepada dukun atau tukang sihir. Terkadang setan itu terkena panah bintang sebelum menyerahkan berita dan terkadang berhasil. Lalu setan itu menambah berita itu dengan seratus kedustaan.”

Nah, celakalah orang yang percaya kepada ramalan para dukun. Na’udzubillah! (Ummu Hafidz)


Sumber
Share:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

© Cahaya diatas Cahaya All rights reserved | Designed by Blogger Templates